Profil Masjid Agung Al Makmur Kota Banda Aceh


ID Masjid:01.2.01.19.02.000001
Luas Tanah:7.572 m2
Status Tanah:Wakaf
Luas Bangunan:1.800 m2
Tahun Berdiri:1979
Daya Tampung Jamaah:2.000
No Telp/Faks:81.266.121.399 / -
Fasilitas:Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Aula Serba Guna, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Mobil Ambulance, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah
Kegiatan:Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
Jumlah Pengurus:45

Mesjid Al Makmur Lampriet merupakan salah satu dari sekian mesjid agung di Kota Banda Aceh. Mesjid itu sudah didirikan pada 1979 oleh masyarakat setempat. Namun, ketika gempa dan tsunami melanda Aceh di ujung tahun 2004, kondisi mesjid tersebut minta diperbaiki.

Perbaikan dan rehab kembali Mesjid Al Makmur pascagempa dan tsunami dilakukan oleh Pemerintah Oman. Pascaperbaikan tersebut, mesjid ini menjadi semakin dikenal dan megah. Ornamen bangunannya yang meniru corak luar negeri membuat mesjid ini indah dipandang mata.

Menurut Muhammad Razali, Imam besar Mesjid Agung Lampriet, peletakan batu pertama mesjid itu pada tahun 1979 oleh Prof A Madjid Ibrahim. “Awalnya mesjid ini diberi nama oleh tengku H Abdullah Ujong Rimba yang saat itu adalah imam besar mesjid. Beliau juga sebagai Ketua MUI masa itu. Nama yang diberikan untuk mesjid ini pertamanya Mesjid Baitul Makmur,” ujar Razali.

Selepas tsunami, tutur Razali, mesjid ini disepakati diganti nama. Ada beberapa nama yang diusulkan. Namun, kata dia, nama yang disepakati pada akhirnya adalah Al Makmur.

“Diganti namanya dengan alasan kata ‘Baitul Makmur’ itu artinya ‘arasy Tuhan’ berarti di aras sana. Baitul Makmur hanya ada di atas sana, sedangkan di dunia ini tidak ada. Akhirnya disepakati diubah namanya menjadi Al Makmur. Pergantian nama ini dilakukan pada tahun 1980-an, sesudah mesjid berdiri,” katanya.
Saat gempa dan tsunami 2004, lanjut Razali, Mesjid Al Makmur ini runtuh sehingga rusak total. Sejumlah orang menurut dia berpendapat mesjid itu tdiak layak lagi digunakan.

“Ketika itulah, Pemerintah Oman datang ke Aceh untuk membangun mesjid ini. Oman waktu menyeleksi apakah membangun mesjid Lamprit atau Mejsid Mesjid Lamgugop. Atas berbagai pertimbangan, salah satunya karena mesjid ini dekat dan strategis, Oman kemudian membangun mesjid ini,” ujar Imam Mesjid Al Makmur.

Ia menjelaskan pembangunan mesjid itu dimulai 2006 dan selesai 2008. Dalam hal bantuan, kata dia, Pemerintah Oman banyak membantu melalui Sultan Kubus.

“Awalnya, setelah dibangun kembali, mesjid ini rencananya akan diberi nama baru lagi. Sempat direncanakan bernama Mesjid Agung Almakmur Sultan Kabus. Namun, oleh sultan sendiri mengatakan pemberian ini adalah ihklas dan tidak perlu dihunghubungkan dengan namanya,” kata Razali.

Razali menuturukan, Mesjid Al Makmur Lampriet itu sudah berstatus sebagai Mesjid Agung di Kotamadya Banda Aceh sebelum dibangun pascatsunami. Namun, karena mesjid itu dibangun oleh Pemerintah Oman, banyak orang kemudian menyebutnya dengan nama “Mesjid Oman”.

Dalam sejarhnya, kata Razali lagi, tahun 1979 lalu, mesjid tersebut sudah mulai dibangun dengan permanen. Pembangunannya dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat dengan pelan-pelan.
“Kalau tingkan ummat muslim yang beribadah di sini, tergolong rame, lantaran tempatnya strategis buat disinggahi oleh orang yang lewat,” tambahnya.

Saat magrib, kata Razali, jemaah yang hadir sampai enam saf. “Ini di hari dan bulan biasa. Lain lagi kalau bulan Ramadan,” ujarnya.

Razali menaksirkan dalam sekali magrib, jemaah yang beribadah di mesjid itu mencapai 500 orang, laki dan perempuan. Menurut, jemaah yang menyusut hanya waktu subuh. “Kalau subuh, paling banyak hanya satu setengah Saf. Namun, di waktu jumat jemaahnya memenuhi mesjid ini,” kata Razali.

Imam mesjid itu berharap ke depannya rumah ibadah tersebut dapat diperluas lagi, karena kalau hari Jumat terkadang mesjid itu tidak mampu menampung seluruh jemaah. Ia khawatir saat Jumat tiba-tiba hujan sehingga akan disayangkan jemaah yang terpaksa salat dalam hujan.

Ditanya apa ada sejarah sesuatu dengan mesjid itu, Razali mengatakan, “Mesjid ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan sejarah. Dulu Lampriet ini sebagai komplek pegawai pemerintahan. Di zaman Belanda ini dijadikan tanah erpah. Lamprit menjadi tempat yang diduduki oleh belanda,” ujarnya.

Menurut dia, secara disain, mesjid Al Makmur ditangani pertama sekali oleh orang Jakarta. Namun, pascatsunami ditangani oleh Oman sehingga motifnya mulai ketimuran. “Semua ditangani oleh Oman, kita hanya terima beres,” tuturnya.[*sumber: SIMAS KEMENAG RI]


Postingan Populer